Achraf Hakimi mengertakkan gigi untuk menyelesaikan pertandingan melawan Bayern Munich (5-4) setelah mengalami cedera. Menderita masalah paha kanan di akhir pertandingan, tidak ada pergantian pemain tersisa. Hal ini kini menimbulkan keraguan atas ketersediaannya.
Meski Paris Saint-Germain mengira bagian tersulit telah berakhir dengan keunggulan nyaman, akhir pertandingan berubah menjadi akhir yang menegangkan. Hanya beberapa menit menjelang peluit akhir berbunyi, Hakimi pingsan setelah menjulurkan kaki kanannya dalam upaya bertahan.
Gambar pertama langsung menunjukkan rasa sakit di bagian belakang pahanya, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan cedera hamstring. Sebuah tanda yang meresahkan pada tahap kompetisi ini, di mana setiap detail penting.
Tidak ada pergantian pemain yang tersisa, pengorbanan di lapangan
Situasi menjadi lebih kritis: Luis Enrique telah menggunakan seluruh pergantian pemainnya. Tidak ada cara untuk menarik bek sayap Maroko itu.
Dipaksa untuk tetap berada di lapangan, Hakimi didorong lebih tinggi—hampir seperti penyerang—untuk membatasi beban kerja defensifnya. Meski mobilitasnya berkurang, ia bertahan hingga peluit akhir berbunyi. Sebuah adegan yang benar-benar menunjukkan mentalitas pejuangnya.
Antara kram dan cedera otot: ketidakpastian masih ada
Dalam konferensi persnya, Luis Enrique menyebutkan kram sederhana yang dialami beberapa pemain, namun belum bisa memastikan secara pasti masalah yang dialami Hakimi.
Namun, gambar dan reaksi pemain menunjukkan cedera otot yang lebih serius daripada sekadar kelelahan. Staf medis PSG diharapkan segera melakukan tes untuk mengetahui tingkat keparahannya.
⚠️ Kepedulian terhadap Achraf Hakimihttps://t.co/9qhNYffwIy
— Mundo Deportivo (@mundodeportivo) 28 April 2026
Kekhawatiran ganda untuk PSG dan Maroko
Di luar leg kedua semifinal Liga Champions UEFA, cedera ini bisa menimbulkan konsekuensi yang luas. Bagi PSG, kemungkinan absennya Hakimi akan menjadi pukulan besar, mengingat betapa pentingnya dia baik dalam menyerang maupun bertahan.
Namun kekhawatirannya juga bersifat nasional: sebagai pemain kunci Atlas Lions, persiapan Piala Dunia 2026 sang bek sayap bisa terancam. Cedera yang semakin parah akan menjadi ancaman besar bagi Maroko.
Piala Dunia 2026
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi paling revolusioner dalam sejarah sepak bola dunia. Turnamen ini untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, jumlah peserta juga meningkat dari 32 menjadi 48 tim, membuka peluang lebih besar bagi negara-negara dari berbagai konfederasi untuk tampil di panggung global. Format baru ini akan menghadirkan lebih banyak pertandingan, atmosfer kompetisi yang lebih luas, serta jangkauan penonton yang semakin besar di seluruh dunia.
Dengan skala yang jauh lebih besar, FIFA menargetkan turnamen ini sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif tetapi juga spektakuler dari sisi teknologi dan pengalaman penonton. Stadion-stadion modern di berbagai kota tuan rumah telah dipersiapkan untuk menghadirkan pertandingan berkelas dunia, didukung oleh inovasi seperti peningkatan sistem VAR dan pengalaman digital bagi fans. diprediksi akan menjadi tonggak baru dalam evolusi sepak bola internasional, memperkuat popularitas olahraga ini sekaligus menciptakan momen-momen bersejarah yang akan dikenang dalam waktu lama.



