Pep Guardiola buka-bukaan soal alasannya tak pernah percaya sepenuhnya pada Jack Grealish selama mereka bersama di Manchester City. Komentar tersebut muncul setelah pemain sayap berusia 30 tahun, yang saat ini dipinjamkan ke Everton, ditemukan pingsan dalam keadaan mabuk di sebuah bar London—sebuah insiden yang sekali lagi membuat frustrasi para penggemar dan staf pelatih City.
Menurut Guardiola, Grealish harus membenahi disiplinnya jika ingin kembali ke level tertinggi. Sang manajer tidak menahan diri, menjelaskan bahwa dia sama sekali tidak terkejut dengan kontroversi terbaru tersebut. Ia menyatakan, permasalahan Grealish bukanlah kurangnya bakat, melainkan kurangnya profesionalisme. Di level elit, Guardiola berpendapat, seorang pemain akan hidup seperti seorang profesional atau berakhir dalam situasi seperti ini—karena sepak bola tidak memaafkan gangguan.
Di Manchester City, lanjut sang manajer, tuntutannya adalah komitmen penuh, tidak berpesta, tidak mengambil liburan di tengah musim, dan tentunya tidak menjadi berita utama karena alasan yang salah. Kalau ada yang ingin jadi pemain top, kata Guardiola blak-blakan, jangan sampai tertidur di bar. Sesederhana itu.
Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa orang-orang sering bertanya kepadanya mengapa pemain tertentu tidak pernah mencapai level yang diharapkan dari mereka, dan inilah alasannya. Ini tidak ada hubungannya dengan taktik atau pelatihan, jelas Guardiola—ini tergantung pada pilihan. Dan dalam pandangannya, Grealish terus melakukan kesalahan. Meskipun sang manajer mendoakan yang terbaik untuknya, dia menjelaskan bahwa inilah alasan mengapa Grealish tidak pernah bisa dipercaya sepenuhnya pada saat yang paling penting.
Saat ini, Grealish sedang dipinjamkan ke Everton, meski cedera serius membuatnya absen dari lapangan. Musim ini, ia berhasil tampil dalam 22 pertandingan bersama The Toffees dengan mencetak dua gol dan memberikan enam assist.
Piala Dunia 2026
Piala Dunia FIFA 2026 akan menjadi edisi paling revolusioner dalam sejarah sepak bola dunia. Turnamen ini untuk pertama kalinya akan diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Selain itu, jumlah peserta juga meningkat dari 32 menjadi 48 tim, membuka peluang lebih besar bagi negara-negara dari berbagai konfederasi untuk tampil di panggung global. Format baru ini akan menghadirkan lebih banyak pertandingan, atmosfer kompetisi yang lebih luas, serta jangkauan penonton yang semakin besar di seluruh dunia.
Dengan skala yang jauh lebih besar, FIFA menargetkan turnamen ini sebagai ajang yang tidak hanya kompetitif tetapi juga spektakuler dari sisi teknologi dan pengalaman penonton. Stadion-stadion modern di berbagai kota tuan rumah telah dipersiapkan untuk menghadirkan pertandingan berkelas dunia, didukung oleh inovasi seperti peningkatan sistem VAR dan pengalaman digital bagi fans. diprediksi akan menjadi tonggak baru dalam evolusi sepak bola internasional, memperkuat popularitas olahraga ini sekaligus menciptakan momen-momen bersejarah yang akan dikenang dalam waktu lama.



