Portugal di Piala Dunia 2026: Terlalu Bagus untuk Sekadar “Hampir”

portugal

Portugal – Mereka punya segalanya. Tinggal satu hal yang belum: trofi Piala Dunia 2026.


Oke, mari kita mulai dengan sebuah pengakuan yang jujur.

Kalau kamu nanya ke siapapun, “Tim mana yang paling enak ditonton di Piala Dunia 2026?” — ada kemungkinan besar nama Portugal masuk dalam tiga jawaban teratas. Bukan karena mereka paling difavoritkan. Bukan karena mereka paling sering juara. Tapi karena ada sesuatu di tim ini yang selalu bikin mata susah dialihkan ke tempat lain.

Mungkin karena Ronaldo yang sekarang usianya 41 tahun tapi masih menolak untuk sekadar “hadir.” Mungkin karena lini tengah mereka yang seperti diisi orang-orang dari planet berbeda. Atau mungkin karena ada cerita yang lebih besar dari sekadar sepak bola yang mengiringi perjalanan mereka musim panas ini.

Apapun alasannya, satu hal yang pasti: Portugal layak dibahas serius. Dan kita akan melakukannya — dengan santai, jujur, dan tanpa dramatis berlebihan.


Konteks Dulu: Portugal Itu Siapa?

Portugal bukan tim yang baru-baru ini jadi bagus. Mereka sudah lama jadi kekuatan sepak bola Eropa. Tapi kalau berbicara soal Piala Dunia, jujur saja — rekam jejak mereka agak… nanggung.

Pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia adalah tempat ketiga di tahun 1966. Itu lebih dari enam puluh tahun yang lalu. Sejak era Ronaldo muncul dan membawa gelombang baru talenta luar biasa, Portugal selalu masuk Piala Dunia sebagai tim yang “berbahaya” — tapi tidak pernah benar-benar sampai ke puncak. Di Qatar 2022, mereka kalah mengejutkan dari Maroko 0-1 di perempat final. Di Euro 2024, juga tersisih di babak yang sama, kali ini lewat adu penalti melawan Prancis.

Polanya cukup jelas: mereka selalu bagus, tapi selalu ada satu momen krusial yang membuat semuanya runtuh.

Nah, pertanyaannya adalah: apakah 2026 akan berbeda?


Skuad yang Jujur Bikin Iri

Sebelum ngomongin peluang, mari kita apresiasi dulu betapa berisinya skuad Portugal ini. Karena serius, kalau kamu buat daftar pemain mereka, rasanya seperti baca roster FIFA Ultimate Team yang sudah di-upgrade semua kartunya.

Bawah mistar:

Diogo Costa dari FC Porto adalah penjaga gawang yang tenang, refleks tajam, dan nyaman dengan bola di kaki. Di belakangnya ada Jose Sa sebagai cadangan yang juga berkualitas tinggi.

Belakang:

Nuno Mendes dari PSG adalah salah satu bek kiri terbaik di dunia saat ini — dia musim ini membantu PSG meraih treble dan tampil luar biasa. Ruben Dias masih menjadi bek tengah kelas atas meski sempat bermasalah dengan cedera hamstring sejak pertengahan Maret. Goncalo Inacio dari Sporting adalah pasangan idealnya — muda, cerdas, dan tenang. Ditambah Joao Cancelo dan Diogo Dalot di sisi kanan, Portugal punya bek-bek yang tidak hanya bisa bertahan tapi juga membantu serangan.

Di tengah — ini yang paling seru:

Portugal punya argumen kuat bahwa mereka memiliki lini tengah terbaik di dunia saat ini. Vitinha dan Joao Neves dari PSG bermain di level yang luar biasa musim ini — keduanya adalah komponen kunci dalam treble PSG. Joao Neves, yang baru berusia 21 tahun, dideskripsikan sebagai “metronom” tim: dia meng-cover lapangan, tekel dengan cerdas, dan bergerak dengan tujuan yang jelas. Bruno Fernandes dari Manchester United tetap tampil gemilang meski klubnya sedang di masa-masa sulit — dia berhasil membuat hat-trick saat Portugal menghancurkan Armenia 9-1 di kualifikasi. Bernardo Silva dari Manchester City melengkapi lini tengah ini dengan visi, teknik, dan pengalaman.

Di depan:

Ini yang paling ramai dibicarakan. Ada Cristiano Ronaldo yang akan kita bahas tersendiri. Rafael Leao yang musim ini mengesankan di AC Milan. Ada Francisco Conceicao, 23 tahun, yang makin matang di Juventus. Ada Pedro Neto di Chelsea yang sudah kembali dari masalah cedera. Dan ada Goncalo Ramos sebagai pilihan striker murni selain Ronaldo.

Kalau ini bukan skuad yang “siap menang,” kita tidak tahu lagi seperti apa skuad yang siap menang itu.

portugal di piala dunia 2026


Tentang Ronaldo: Kisah yang Tidak Akan Ada Habisnya

Oke, kita harus bicara soal Cristiano Ronaldo. Karena tidak mungkin membahas Portugal 2026 tanpa menyinggung namanya — dan tidak mungkin hanya sekadar menyinggung.

Di usianya yang menginjak 41 tahun saat Piala Dunia berlangsung, Ronaldo akan tampil di Piala Dunia ke-enam-nya — sebuah angka yang akan menyamai rekor penampilan terbanyak di Piala Dunia sepanjang sejarah. Kalau dia bermain di satu pertandingan saja, dia menjadi pemain pertama dalam sejarah yang tampil di enam edisi berbeda.

Dan bukan sekadar hadir untuk dilihati. Musim ini di Al-Nassr, Ronaldo mencetak 28 gol. Dalam 14 pertandingan terakhirnya untuk timnas, dia bikin 13 gol. Angka-angka itu bukan milik orang yang sedang “menurun” — itu angka pemain yang masih sangat berbahaya.

Yang membuatnya semakin emosional: Bruno Fernandes, kapten Manchester United yang juga sahabat Ronaldo, sudah berterus terang kepada BBC bahwa motivasi terbesar tim ini adalah “memenangkan Piala Dunia untuk semua yang telah Cristiano berikan kepada sepak bola.” Ini bukan basa-basi media. Ini adalah locker room yang tahu bahwa mereka sedang berada di momen terakhir bersama pemimpin mereka, dan mereka ingin memastikan ceritanya berakhir dengan cara yang benar.

Pelatih Roberto Martinez pun pernah menegaskan: “Cristiano Ronaldo tidak bermain untuk Portugal karena apa yang sudah dia lakukan di masa lalu, tapi karena pentingnya dia saat ini.” Pernyataan yang sebenarnya cukup berani — dan sekaligus jujur.

Apakah ada pertanyaan soal apakah Ronaldo di usianya ini bisa jadi beban taktis? Ya, ada. Di turnamen yang menuntut pergerakan intensif dan pressing tanpa henti, stamina Ronaldo pasti jadi isu. Tapi meremehkannya sepenuhnya juga bukan pilihan bijak — karena sejarah membuktikan bahwa di momen-momen besar, Ronaldo masih bisa menentukan.


Satu Nama yang Tidak Ada di Skuad: Diogo Jota

Tidak terasa lengkap membahas Portugal 2026 tanpa menyebut nama ini dengan hormat.

Diogo Jota, winger Liverpool yang berusia 28 tahun, meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di Spanyol pada 3 Juli 2025 — bersama adiknya, Andre Silva. Tragedi ini mengguncang dunia sepak bola. Jota baru saja menikah 11 hari sebelum kejadian itu. Baru saja membantu Liverpool meraih gelar Premier League. Baru saja turut andil dalam kemenangan Portugal di Nations League 2025 atas Spanyol.

Sebagai bentuk penghormatan, Martinez memutuskan bahwa nomor punggung 21 milik Jota tidak akan diberikan ke pemain lain — melainkan diwariskan ke Ruben Neves, sahabat lamanya sejak bersama-sama di Wolverhampton. Martinez berkata dalam sebuah konferensi pers yang sangat emosional: “Kami akan menang untuk Diogo, untuk adiknya Andre, dan seperti biasa, untuk semua orang Portugal. Dalam perjalanan baru ini, jumlah pemain kami adalah 23 + 1 — yang satu itu adalah Diogo.”

Kalau ada hal yang bisa menyatukan sebuah tim dengan cara yang jauh melampaui taktik dan formasi, mungkin ini salah satunya.


Grup K: Jalan Menuju Babak Gugur

Portugal tergabung dalam Grup K bersama Kolombia, DR Kongo, dan Uzbekistan. Pertandingan pertama mereka adalah melawan DR Kongo pada 17 Juni.

Kalau dilihat di atas kertas, ini adalah grup yang seharusnya tidak terlalu menjadi masalah bagi Portugal. Kolombia adalah lawan yang paling perlu diwaspadai — mereka adalah tim dengan organisasi yang baik dan beberapa pemain berbahaya. Tapi DR Kongo dan Uzbekistan, dengan segala rasa hormat, berada jauh di bawah level Portugal.

Dengan kata lain: Portugal seharusnya lolos fase grup tanpa keringat berlebih. Dan itu penting — karena mereka perlu menjaga energi dan kebugaran para pemain kuncinya (terutama Ruben Dias yang baru pulih dari cedera) untuk babak-babak yang lebih berat di depan.


Strengths: Mengapa Portugal Bisa Jadi Kejutan Besar

Lini tengah mereka adalah senjata utama. Vitinha, Joao Neves, Bruno Fernandes, dan Bernardo Silva membentuk kuartet yang bisa mendominasi penguasaan bola sekaligus berbahaya saat menyerang. Ini adalah kekuatan riil yang tidak dimiliki semua tim.

Kedalaman skuad yang serius. Martinez dikenal ketat soal seleksi berbasis form terkini, bukan nama. FourFourTwo mencatat bahwa Portugal bisa menyodorkan tiga opsi pemain berkualitas untuk setiap posisi. Ini berarti kalau ada cedera, tim tidak langsung runtuh.

Bukti bisa menang di turnamen besar. Portugal juara Nations League 2025, mengalahkan Spanyol di final lewat adu penalti. Ini bukan turnamen sembarangan — ini membuktikan bahwa skuad ini bisa perform di laga puncak dengan tekanan tinggi.

Martinez yang fleksibel secara taktis. Pelatih asal Spanyol ini sudah melatih Portugal dalam 32 pertandingan dengan hanya 4 kekalahan. Dia bisa memasang 4-3-3, 4-2-3-1, atau bahkan 3-4-2-1 tergantung kebutuhan. Fleksibilitas taktis itu sangat berharga di turnamen panjang.


Weaknesses: Yang Perlu Diwaspadai

Jujur saja, setiap tim punya celah — termasuk Portugal.

Ketergantungan pada Ronaldo masih nyata. Walaupun ada banyak pemain bagus di depan, Ronaldo masih menjadi focal point serangan. Kalau dia dalam malam yang buruk atau lawan berhasil mematikan pergerakannya, siapa yang mengambil alih? Ini pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya.

Ruben Dias dan kondisi fitness. Bek tengah utama Portugal ini belum bermain sejak pertengahan Maret karena cedera hamstring. Kalau Dias tidak fit di awal turnamen, kekokohan lini belakang Portugal bisa terganggu.

Sejarah tersandung di perempat final. Ini bukan mitos — ini fakta statistik. Dua turnamen besar terakhir (Qatar 2022 dan Euro 2024), Portugal terhenti di babak yang sama: perempat final. Ada semacam “dinding” psikologis di titik itu yang perlu mereka dobrak.

Joao Neves yang masih muda dan belum 100%. Si gelandang PSG berusia 21 tahun ini sempat berjibaku dengan cedera musim ini. Kalau dia tidak fit sepenuhnya, ada lubang besar di jantung lini tengah Portugal.


Peluang Nyata: Angka-Angkanya

Berdasarkan odds dari berbagai pasar taruhan terkemuka, Portugal masuk sebagai tim dengan peluang sekitar 8-9% untuk menjuarai Piala Dunia 2026 — menempatkan mereka di posisi keenam dalam daftar favorit, di belakang Spanyol, Inggris, Prancis, Brasil, dan Argentina.

Tapi ada yang menarik di sini. Para analis di Squawka dan portugoal.net sama-sama mencatat bahwa odds tersebut mungkin sedikit meremehkan Portugal. Kenapa? Karena kalau kamu perhatikan kualitas lini tengah mereka, rekam jejak Martinez, dan beban emosional yang bisa menjadi bahan bakar luar biasa — angka 8% terasa terlalu kecil untuk tim yang punya lini tengah berisi trio PSG ditambah Bruno Fernandes.

Bagian paling menarik mungkin ini: Squawka menempatkan perempat final sebagai titik eliminasi paling mungkin bagi Portugal (odds 3/1). Persis seperti dua turnamen terakhir. Yang artinya, kalau Portugal benar-benar bisa melewati perempat final kali ini, momentum ke semifinal dan final terbuka lebar.


Skenario Terbaik: Bagaimana Portugal Bisa Juara?

Oke ini bagian yang fun. Kita bayangkan skenario di mana Portugal benar-benar angkat trofi:

Fase grup berjalan lancar, semua kemenangan. Ronaldo mencetak minimal satu gol untuk memecahkan rekornya sendiri.

Babak 32 besar dan 16 besar, lawan yang bisa dikalahkan dengan relatif nyaman — memberi waktu bagi Ruben Dias untuk benar-benar fit, dan Joao Neves untuk menemukan rytme terbaiknya.

Perempat final — ini adalah ujian sesungguhnya. Di sinilah Portugal harus membuktikan mereka bukan tim “perempat final” lagi. Lawan kemungkinan adalah tim top Eropa. Di sinilah lini tengah Vitinha-Neves-Bruno-Bernardo harus tampil di level tertinggi.

Semifinal dan Final — kalau sudah sampai sini, dengan energi dan momentum yang terbangun, serta bahan bakar emosional yang sudah disebutkan tadi, Portugal bisa mengalahkan siapa saja di hari terbaik mereka.

Ini bukan skenario yang tidak realistis. Bukan mimpi kosong. Ini adalah kemungkinan nyata yang bergantung pada satu hal: konsistensi di momen-momen paling krusial.


Kesimpulan: Ini Momen yang Tepat, atau Tidak Akan Pernah Ada

Portugal sudah terlalu lama menjadi tim yang “hampir.” Hampir di 2006. Kalah di 2022. Hampir di 2024. Setiap kali ada rasa “ini tahunnya” — dan setiap kali ada momen pahit yang mengakhiri segalanya.

Tapi 2026 terasa berbeda, bukan karena kita ingin membuatnya terdengar dramatis, tapi karena faktor-faktornya memang berbeda. Skuad ini adalah yang paling dalam dan paling seimbang yang pernah dimiliki Portugal. Pelatih mereka sudah membangun fondasi yang solid selama tiga tahun. Mereka sudah membuktikan bisa menang di turnamen besar dengan mengalahkan Spanyol di Nations League 2025. Dan ada sesuatu yang tidak terukur secara statistik — sebuah tekad kolektif, sebuah misi yang diemban untuk lebih dari sekadar trofi.

Mereka bermain untuk Ronaldo yang mungkin mengikuti Piala Dunia terakhirnya. Bermain untuk Diogo Jota, nomor 23 + 1 yang selalu hadir dalam semangat tim. Generasi pemain muda seperti Joao Neves dan Vitinha yang siap menulis sejarah mereka sendiri.

Apakah mereka akan juara? Tidak ada yang tahu. Favorit terkuat tetap ada nama lain.

Tapi kalau ditanya tim mana yang paling punya alasan kuat untuk menang di Piala Dunia 2026 — secara kualitas, secara momentum, dan secara cerita yang mengiringi perjalanan mereka — Portugal ada di posisi yang sangat, sangat layak untuk dipertimbangkan.

Saudade untuk yang pergi. Semangat untuk yang berjuang. Boa sorte, Portugal. 🇵🇹


Jadwal Portugal di Fase Grup:

  • 17 Juni: Portugal vs DR Kongo
  • 21 Juni: Portugal vs Uzbekistan
  • 25 Juni: Portugal vs Kolombia

Artikel ditulis berdasarkan data dan analisis terkini, Mei 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *